MUARA ENIM, DS — Ikatan Wartawan Semende (IWAS) Kabupaten Muara Enim menggelar Pelatihan Jurnalistik bersama Insan Pers se- Semende Raye di Common Room Penginapan Dania Jaya Desa Pulau Panggung pada Kamis, (21/05/2026).
Tak tanggung-tanggung, pelatihan ini dimentoring langsung oleh Ahli Pers dari Dewan Pers Mahmud Marhaba dan Ketua IWAS Novlis Heriansyah.
Bimbingan tersebut juga dihadiri Stafsus Bupati Muara Enim bidang Humas untuk Media, Opini dan Politik H Ahmad Mujtaba SE S ThI, Diskominfo Pemkab, Perwakilan PT PGE, Camat Semende Darat Laut serta puluhan anggota IWAS.
Sebagai Mentor, Mahmud Marhaba menekankan pentingnya wartawan mengedepankan Kode Etik Jurnalis dalam menjalankan tugasnya.
”Wartawan boleh bekerja sebebas mungkin, tidak boleh ada sensor tetapi harus punya batas,” jelasnya.
Di dalam penulisan berita kata Mahmud, wartawan tidak boleh menyebutkan identitas objek pemberitaan secara gamblang meskipun menggunakan kata “diduga” bahkan meski juga telah dikeluarkan rilis oleh pihak Kepolisian.
Kecuali, hal itu telah bersifat Inkrah resmi diputuskan oleh pihak Pengadilan. Maka sambungnya lagi, wartawan yang kompeten hanya akan menuliskan inisialnya saja sebab wartawan harus menghormati norma agama dan azas praduga tak bersalah.
Ahli Pers ini pun menyoroti, perihal seringnya “Hak Tolak” tidak dilakukan oleh para insan pers.
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Hak Tolak diatur dalam Pasal 4 ayat (4):
“Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak.”
Secara sederhana, Hak Tolak adalah:
hak wartawan untuk menolak mengungkap identitas narasumber yang harus dirahasiakan.
Ini bisa juga digunakan saat narasumber meminta sebuah informasi yang diperoleh wartawan tentang dirinya saat diminta untuk dilakukan konfirmasi untuk perimbangan sebuah berita.
Tentunya ini merujuk wartawan menggunakan hak tolaknya untuk menulis, menyiarkan berita yang bertentangan dengan kode etik jurnalis serta menolak menulis berita bohong guna kepentingan publik hingga keselamatan diri.
Di tengah keseriusannya memberikan edukasi, ia menyelipkan candaannya. Mahmud berujar, pada hari kiamat nanti profesi wartawanlah yang terakhir kali dibinasakan.
”Berbahagialah kalian, karena pada saat kiamat wartawan akan diberikan waktu lebih oleh malaikat untuk mencatat dan menyebarkan berita tentang kiamat itu sendiri,” gurau Mahmud sambil tertawa. (a2m)
